Posted in Cerpen, OriFiction

Unknown Error

Error1

Sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku, hingga aku memikirkannya.

Hari itu aku perlu pergi ke Borma untuk membeli pembalut. Kebetulan hari pertama periodeku terjadi ketika aku tidak sedang berada di rumah dan aku tidak membawa pembalut dalam tas selempanganku. Jelas aku sedang membutuhkannya.

Lumayan sulit mencari blok pembalut di dalam Borma yang tergolong asing penempatannya menurutku. Ketika aku menemukannya, aku disuguhi dua orang –pria dan wanita. Aku cukup menyakini keduanya adalah pegawai disana, si wanita sedang menyusun sekumpulan pembalut didalam kardus ke etalase-etalase tinggi dan si pria sedang memegangi tangga yang dipakai si wanita untuk meraih etalase tinggi itu.

Sebenarnya aku sama sekali tidak berniat menguping pembicaraan mereka, semua terjadi seperti seharusnya, entah dengan alasan apa, belum diketahui. Si pria sedang bercerita tentang percintaannya pada si wanita itu, dalam hati aku berkata, “Seharusnya kalian tidak bercerita di sini terutama di blok ini..”

Maksudnya, you know, pria dan wanita membicarakan percintaan di blok paling pribadi dari seorang wanita.

Entah kalian memikirkan ini juga atau tidak, tapi menurutku blok pembalut adalah blok paling feminin yang pernah ada, hanya dilewati dan di amati oleh para wanita, dari sini mereka perlu memilah kegunaan yang benar-benar mereka butuhkan. Menjaga untuk tetap nyenyak semalaman atau aktif di siang hari.

Oke, back to the case..

Aku baru benar-benar menyimak ketika si pria berkata,

“Dia bener-bener labil,” katanya bermaksud membicarakan pacarnya. “Kamu tahu labil, kan?” katanya lagi dengan suara yang menyebalkan menurutku. “Contohnya waktu satu hari aku dan dia punya perbincangan yang bener-bener menyenangkan terus di hari berikutnya nggak lagi,” si pria menghela nafas, “ini kaya aku perlu menemukan hal-hal yang perlu membangkitkan atensinya.”

“Mungkin kamu emang harus menemukannya,” si wanita memberi pendapat, “atau kalian perlu sering ketemu, setiap hari.”

Si pria mendengus, “Itu akan sedikit ngebosenin,” alasannya.

Aku memutar bola mata.

Bener juga,” kata si wanita kemudian.

Aku mendengus.

“Dia juga pernah bilang kalau kita nggak perlu ketemu setiap hari, nanti bosan,” tambah si pria.

Aku memilih pembalut yang bertuliskan quick lock dan menimbang-nimbang tentang harganya dan membandingkan dengan tulisan quick lock edisi merk lain. Dan memilih di pertengahan, yang tidak terlalu murah dan tidak terlalu mahal. That’s usually me..

Kemudian aku mendengar lagi,

“Ya udah, cari yang lain aja?” ucap si wanita.

Aku mengerutkan kening.

“Berarti harus adaptasi lagi, dong,” tanggap si pria.

Si wanita tertawa renyah.

Aku semakin mengerutkan kening.

“Dia baik banget, mengerti dan apa yah, aku nggak tahu gimana menjelaskannya, satu hari waktu aku antar Noni pulang, setelah aku sampai rumah dia telpon dan tanya tadi bonceng siapa,” terang si pria, “otomatis aku kaget.”

“Terus kamu jawab apa?”

“Temen, terus aku tanya balik ke dia tau dari siapa?” si pria memberi jeda, “kayanya ada yang ngasih tau kedia,deh.”

“Terus dia jawab apa?”

“Dia nggak dikasih tau siapa-siapa, cuma feeling, takjub.”

“Haha .. kereeen, dong, bisa pas gitu.”

“Makanya rada horor juga, dia kayanya tahu kalau aku lagi bohong, dia suka natap mata atau bisa dibilang mencoba menebak sendiri terus ngasih ceklis entah di sebelah mana dan tentang mengenai apa, mungkin menilai atau apa, seperti mau memastikan sesuatu dan dia lanjut manggut-manggut waktu aku selesai cerita ini – itu.”

Ya udah, dia seriusan mungkin.”

“Pengennya, sih, aamiin, eh tapi nggak tau deh, masih bingung, maksudnya gimana yaaa, kayak masih ada yang kurang.”

“Yang bikin males itu, dia sering bawa-bawa masalalu, ngomongin tentang dulu-dulu, mantannya.”

Aku mengangguk-angguk kecil teringat satu sesi pembicaraan di radio tentang hal yang tidak disukai pria tentang wanita ..

.. laki-laki cenderung ingin menjadi prioritas, yang pertama.

Berbeda dengan wanita yang ingin menjadi yang terakhir, terserah dengan siapa pria itu dulu, yang terpenting adalah kini dia bersamanya.

Lho, harusnya nggak usah ngomongin masa lalu dong, yang sekarang-sekarang aja.”

Aku tersenyum miring. Dan tahu benar kalau aku sudah selesai di blok ini.

Aku berspesikulasi sendiri tentang satu hal.

Ketika wanita menceritakan sesuatu tentang masa lalunya, mungkin ia sedang ingin memastikan tentang satu hal, apakah si pria yang kini bersamanya bisa menerima dirinya meskipun masalalunya seperti itu atau itu, seperti dia yang menerima si pria apa adanya dia hari ini, berikut cerita masalalunya ..

.. dan juga tentang cara si pria menyembuhkan luka si wanita di jaman dulu, seperti ia mencoba untuk menyembuhkan si pria lamat-lamat hingga, back to save and sound.

Tapi kemudian aku tersipul lagi ketika mengingat satu hal, cinta itu bukan tentang take and give tapi tentang give and give.

Aku menggeleng-geleng, it’s too complicated for me.

Aku sadar tentang hal berikutnya, mungkin aku, tanpa aku sadari bercerita pada seseorang di momen yang tidak disukai orang lain yang tidak sengaja mendengarkannya, kemudian mereka berspesikulasi sendiri tentang ini dan itu.

Kemudian lagi ketika aku tepat di blok biscuits aku tersenyum ketika menumukan cookies cokelat kesukaanku.It’s unknown error.

2 thoughts on “Unknown Error

  1. Wkwk,
    Iya, kok tau haha
    Kerenlaah intuisinya, itu nggak sengaja, karena lg pengen bikin yg beda, belakangan emang lg suka baca yg dominan konflik dalam batin, jadi sok2an ingin memahami isi hati haha
    Thank you for reading and comment 🙂

Replies

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s