Posted in #GOLDEN TRIO, FanFiction

Chapter 1 – Together

PicsArt_07-01-05.20.06.jpg

Story by t.s.

 

Hari itu Juni berada di posisi antara sadar dan tidak sadar, ketika PD-nya Jang Dae Gwan, berkata (soal bintang tamu untuk acara mereka diminggu depan adalah Suho) dalam rapat mingguan mereka. Sebagian dari otak Juni seperti membeku namun sebagian yang lain seperti mencair disaat yang bersamaan. Membuatnya percaya-tidak percaya.

Suho adalah seorang Hallyu yang sudah amat terkenal di Korea Selatan, dan kini sedang dalam proyek duonya bersama seorang gadis cantik yang di mana image mereka berdua itu adalah malaikat dan perinya Korea, mereka sudah sangat sukses di Los Angeles, sekarang.

Dan menurut yang dikatakan PD-nya itu, Suho dan teman duetnya akan pulang hari ini, dan dirinya yang selama tiga tahun ini berada di tim kreatif dalam acara Talk di salah satu stasiun televisi internasional, sudah tentu mendapat tugas utama untuk membuat wawancara dengan para artis yang akan menjadi bintang tamu.

Masalahnya adalah seketika Juni menjadi buntu ide. Ia seperti tidak dapat berpikir seperti biasanya. Pikirannya sudah melayang dalam rapat dua jam yang lalu. Dan kini dia sedang duduk melamun di ruang edit. Menatap kertas polio sambil menggenggam pensil.

“Yang Juni!”

Seseorang dari samping mendorong bahu Juni. Membuat gadis itu menoleh dengan linglung.

Seonbae?[1]

Gun Wook mendengus ringan dan menatap Juni dengan pandangan menyipit.

“Aku sudah memanggilmu berkali-kali, kau tidak dengar?”

Mianhaeyo[2],” Juni menunjukkan senyum bersalah. “Apa ada tugas mendadak?” Juni bertanya mengingat biasanya Shim Gun Wook (kameramen terbaik yang dimiliki kantor broadcasting mereka dan ternyata ditempatkan satu tim acara dengannya) hanya akan mencarinya ketika ada tugas khusus dari Dae Gwan.

“Tidak, aku hanya ingin mengajakmu makan siang. Tae Ra bilang kau masih ada kerjaan dan menolak makan siang dengannya. Apa yang kau kerjakan?”

Dalam gerakan halus, Juni menutup polionya dengan lembar polio lain. “Membuat pertanyaan wawancara,” katanya kemudian menggedikkan bahu, “tapi sepertinya aku sedang kehabisan ide, aku masih belum menemukan judul untuk acara kita minggu depan.”

“Kau bercanda? Yang Juni si kepala yang dipenuhi banyak ide, kini kehabisan ide? Woah, mungkin masa produktifmu sudah habis.” Gun Wook berkata dengan halis terangkat tinggi seolah hal itu memang hal yang paling tidak mungkin dalam hidupnya.

Juni merengut, “Seonbae, jangan berlebihan. Aku juga manusia biasa dan bukan robot pembuat ide, dan untuk masa produktif- aku ini masih muda,” katanya bersungut-sungut.

Gun Wook tertawa tanpa suara. Bibirnya membentuk bulan sabit tidur, membuat kumis-kumis tipisnya terlihat manis dan gigi putih susunya tampak jelas. Dan Juni tersenyum terpana melihat kesempatan bersejarah itu.

Seonbae?” mata Juni berbinar. “Baru kali ini aku melihatmu tertawa. Woah, daebak[3]! Aku akan menceritakannya pada yang lain.”

Dan Juni bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia bercerita banyak  setelah bergabung bersama Tae Ra, Jun Ho dan Kimmy di kedai samping kantor. Sementara Gun Wook hanya menyumpit daging panggang di samping  Juni. Dan yang lain mendengarkan dengan antusias.

“Juni-ya seharusnya kau memotretnya tadi,” Kimmy berujar. Gadis sepantaran Juni itu pernah bercerita kalau dia menyukai Gun Wook saat laki-laki itu meminjamkan bulpoin, dan Juni tertawa menggodanya saat Kimmy menceritakan itu.

“Aku lupa, maaf, bila ada kesempatan lain akan kupotretkan untukmu,” kata Juni sambil menyumpit kimchi.

Dan Tae Ra menyenggol dengan sengaja bahu Kimmy dan Kimmy tersenyum manis pada Gun Wook. Sementara Gun Wook hanya menggedikkan pundaknya.

“Apa kau sudah menyelesaikan pertanyaan wawancaranya?” Tanya Tae Ra.

Juni terbatuk seketika dan memukul-mukul dadanya kemudian meredakannya dengan minum. Gun Wook melirik padanya.

“Belum,” Juni menjawab.

“Hei, wawancaranya dua hari lagi, kau tahu, kan?” Kimmy menatapnya dengan tidak puas.

Juni membasahi bibirnya dan menatap Kimmy yang duduk diseberang. “Kalau kau saja yang menggantikanku, bagaimana?”

“Menggantikan bagaimana maksudmu?”

“Maksudku? Em.. kau yang membuat wawancaranya?”

“Lalu, kau, apa yang akan kau kerjakan?”

“Aku?” mata Juni bergerak-gerak. “Aku.. aku akan istirahat, maksudku, tugas beberapa bulan ini sudah menyita pikiranku, aku ingin untuk kali ini kau yang mengerjakan, kau juga ingin di promosikan, kan?”

Kimmy mengangguk, “Baiklah, tapi kau tidak mengambil cuti, kan? Aku juga pasti akan membutuhkan bantuanmu.”

“Aku akan memeriksa naskahmu sebelum meminta cuti.”

“Kenapa mendadak minta cuti?”

Gun Wook bertanya di perpustakaan disebelah sudut kanan yang memiliki lemari-lemari besar penyimpanan kaset. Juni membantu Kimmy mencari beberapa lagu untuk diputar sebagai lagu latar wawancara bersama Suho, Sparkling on the Sky, Kimmy menyebutkan judul wawancaranya. Dan gadis itu kini berada di ruang edit sementara Juni membantunya mendapatkan sesuatu yang bisa menjadi referensi.

“Tidak mendadak.” Juni berjongkok untuk mencari kaset yang dia butuhkan, dia membaca satu persatu judul deretan kaset dengan mata menyipit dan kening berkerut kemudian tersenyum saat mendapatkan yang dia cari. “Sabahatku akan menikah dalam waktu dekat, aku ingin ikut mempersiapkannya, dia sendiri yang memohon itu padaku.”

“Tapi bukankah sudah banyak WO untuk mempersiapkan hal semacam itu?” Gun Wook berjinjit dan mengambil satu kaset, dan mengamatinya.

“Dia kasus spesial.”

“Benarkah? Kupikir kau hanya ingin menghindar?”

Juni menengadah pada Gun Wook. “Memangnya apa yang kuhindari?” kemudian berdiri dan mulai membaca judul-judul kaset lain.

“Joon.”

Dan tangan Juni yang sedang menunjuk pada deretan kaset menggantung diudara, mendadak canggung dan menoleh dengan gelisah pada Gun Wook yang berjalan dibelakangnya. Kemudian laki-laki itu mengulurkan kaset yang diambilnya tadi.

“Seperti yang dikatakan Jun Ho saat makan siang tadi, kau bukan antifans grup menyanyi Joon pada masanya, kan? Dari keakraban kau dan Luhan untuk wawancara dua minggu yang lalu, kalian terlihat seperti teman lama. Jadi kenapa kau tidak seantusias waktu itu? Kau seperti menghindarinya?”

Bibir Juni seperti dalam rekatan lem, dia mengatupkannya rapat-rapat. Dan menatap Gun Wook dengan kening berkerut.

“Jangan bertanya bagaimana aku bisa memanggilnya Joon, tanya saja sendiri padanya.”

Kemudian Gun Wook pergi setelang berkata mempunyai janji bertemu dengan manager Suho bersama dengan Tae Ra dan Jun Ho satu jam lagi.

Tidak banyak yang memanggilnya Joon.

“Itu panggilan sayang dari ibuku,” Joon memberitahu ketika Juni bertanya. Dan Juni memanggilnya Joon mulai saat itu.

“Kenapa?”

Juni hanya menggedikkan bahunya, “Itu juga jadi panggilan sayang dariku.”

Dan Joon hanya memberinya senyum manis sambil mencubit pipi Juni dengan gemas.

“Kalau begitu, Yanga adalah panggilan sayang dariku.”

Dan itu menjadi panggilan sehari-hari dalam bertahun-tahun kedekatan mereka. Kedekatan yang menyenangkan, saling menyemangati, saling memarahi, saling mengingatkan waktu makan waktu istirahat dan saling merindukan.

Juni tidak pernah berhubungan sedekat itu dengan lawan jenis (kecuali ayahnya, tentu saja, itu kasus spesial) dan dia menikmati letupan-letupan asing namun menyenangkan ketika bersama dengan Joon. Dia menyukai laki-laki itu, ya, siapa yang tidak menyadarinya, orang-orang terdekat mereka juga tahu tentang itu, ayahnya, ibunya, ayah tirinya, Jio, Luhan, Mel, Kris, bahkan Ibu Joon.

Juni cukup dekat dengan Ibu Joon, awal pertemuan mereka secara tidak sengaja di kantor agensi Joon, Juni hendak bertemu ayah yang sudah beberapa tahun menjadi produser musik di sana sedangkan beliau hendak bertemu dengan Joon berniat memberikan berdus-dus tonik, namun ketika itu Joon sedang mempersiapkan debut dan Ibu Joon tidak bisa terus menunggu laki-laki itu selesai latihan. Dan Juni menawarkan bantuannya. Kemudian saat Ibu Joon kembali mendatangi kantor agensi di waktu berikutnya dan mempunyai kesempatan bertemu lagi dengan Juni, mereka menjadi dekat. Menurut Juni, Ibu Joon sangat perhatian dan sangat menyayangi Joon, kemiripan ibu dan anak itu adalah senyuman mereka dan gigi rapi mereka, sungguh memesona, pikir Juni ketika itu.

Jika dipikir-pikir mungkin itulah sebabnya Joon diberinama panggung, Suho, mungkin karena senyumannya yang menghangatkan seperti malaikat penjaga, atau mungkin dirinya yang selalu ingin berusaha menjaga orang-orang di sekitarnya. Menjaga Tao, menjaga Sehun, menjaga Juni, dan entah menjaga siapa lagi, Juni tidak tahu.

Pernah disuatu kesempatan. Ketika itu ayah mengajaknya mendaki gunung dan bermalam satu malam. Anak-anak perlu latihan pernafasan, ayah berkata. Dan Juni yang sedang patah hati oleh salah satu anak asuh terbaik ayah, dipaksa untuk ikut. Jika memang Juni tidak mau ikut juga, dia harus bermalam di rumah ibunya. Dari pada menginap di rumah ibunya dan bertemu dengan ayah tirinya, Juni lebih memilih ikut dengan ayah. Dan tanpa diduga orang yang membuat Juni patah hati juga ikut serta dan ketika berniat marah pada ayah, Juni tersadar, ayah tidak tahu soal dirinya yang menyukai, Kyuhyun. Dan karena dirinya yang sibuk menghindari Kyuhyun, dia malah terperosok dan ketika meminta tolong orang-orang sudah jauh pergi, tidak menyadari keabsenannya. Beberapa menit berselang (entah bagaimana laki-laki itu bisa tahu) Joon datang menolong. Dan disitulah laki-laki itu mencuri ciuman pertama Juni.

“Kenapa kau berbohong?” Kimmy bertanya pada Juni dengan wajah cemberut.

Juni meletakkan beberapa majalah tentang Suho dan album-album grup laki-laki itu juga album duetnya.

“Tentang?” Juni berusaha menunjukkan wajah tidak tahu apa-apa. Tapi dalam hatinya dia menebak-nebak, apa Kimmy juga seperti Gun Wook seonbae yang mengetahui soal Joon.

“Ini,” Kimmy mengulurkan dua lembar polio, catatan yang Juni buat atau sebut saja tanpa sengaja Juni buat, dia mengerjakannya sambil melamun, sepertinya, sebelum Gun Wook mengajaknya makan siang tadi.

“Ini sangat bagus, kenapa kau bilang tidak dapat ide?” desak Kimmy.

Juni menggaruk halisnya. “Kupikir itu terlalu pribadi.”

“Pribadi apanya?” Kimmy memandangnya dengan  mata melebar seolah yang dikatakan Juni adalah hal yang paling tidak masuk akal sedunia, dan memang begitulah sepertinya. “Yang benar saja.. ini pertanyaan umum, kau tahu? Para fansnya juga pasti ingin tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini. Jadi lupakan soal sparkling yang tidak jelas itu, kita pakai punyamu saja. Dan tunda dulu cutimu hingga wawancara ini.”

Ashish terus menggonggong gelisah saat tiba di rumah bersama Juni. Tidak tahu karena apa. Ketika Juni menggendongnya, Ashish mengencingi kaus Juni. Namun alih-alih marah pada anjing jenis poodle berwarna coklat yang dibelinya tiga tahun lalu bersama Jio, dia malah menciumnya.

“Kau juga ingin bilang kalau aku menghindarinya?” Juni mengangkat Ashish diatas kepalanya, Ashish meronta dan Juni tertawa. Anjing betinanya itu memang tidak suka ketinggian.

“Makanya jangan mengejekku.” Juni melepaskan Ashish untuk melihatnya berlari memutarinya menggonggong dan menggerak-gerakan ekornya dengan tidak sabar.

Setelah mengganti kausnya dan memakai coat berwarna coklat kesayangannya serta memakai jeans biru untuk celananya. Juni membawa serta Ashish saat mengambil loundry di gedung di seberang tempat tinggalnya. Juni dan ayah terlalu sibuk untuk mencuci baju sendiri. Ayah kadang akan pulang sangat larut bahkan kadang tidak pulang untuk satu malam dan baru pulang untuk mengganti baju di siang hari. Sementara Juni meski jarang pulang larut, Juni akan sibuk dengan pekerjaan yang dia bawa pulang dan begadang untuk mengerjakannya kemudian terbangun di meja kerjanya sementara Ashish tidur dengan bantal yang disundul-sundul oleh dirinya sendiri ke bawah kaki Juni. Tak jarang ia juga menitipkan Ashish di pet shop dekat kantor sementara ia bekerja.

Di pet shop itu, dua tahun yang lalu, adalah tempat mengadopsi anak-anak yang Ashish lahirkan, Ashish sangat murung ketika tahu anak-anaknya sudah diadopsi semua, kemudian beberapa minggu setelah itu, mungkin karena sudah tidak mau terus berlarut-larut dalam kesedihan, Ashish sudah ceria lagi, dan bulunya sudah tidak rontok lagi.

Ashish menunggu Juni membayar loundrynya sambil mengerak-gerakan ekor. Sesekali bergerak memutar untuk menggit ekornya dengan gemas. Dalam perjalan menuju gedungnya kembali, Juni merapatkan coatnya oleh tangan kanan yang menjepit bungkusan loundry didadanya, tangan lainnya memagang tali, dia membiarkan Ashish berjalan dengan percaya diri saat berpapasan dengan anjing-anjing lain.

Udara masih cukup membuat Juni mengigil menjelang akhir musim dingin ini. Angin masih meniupinya dan membuat pipi Juni merah kedinginan, bibir Juni sudah keungu-unguan sekarang. Juni tidak sabar menunggu awal musim semi nanti, karena saat itu Jio sahabatnya akan menikah. Dan sebulan yang lalu, Mel, yang mengambil magister di Inggris sudah pulang. Dan Juni sangat antusias menjalani hari-harinya ditemani mereka berdua.

Ketika Ashish menggonggong dan berlari kencang, Juni juga ikut berlari dengan kerepotan, dan ketika Juni meminta Ashish untuk berhenti, Ashish baru menuruti perintahnya ketika didepannya berdiri laki-laki yang tidak seberapa tinggi berambut coklat gelap dan rapi, dengan masker warna hitam yang menutupi sebagian wajahnya dan menjejalkan tangannya ke saku berpola lingkaran–dalam lingkaran itu bertuliskan LA.

Los Angeles mungkin, Juni menebak.

Kemudian laki-laki itu berjongkok di depannya dan menyisir bulu Ashish, membuat Ashish duduk dengan nyaman menikmatinya. Sementara Juni mengataur nafasnya yang terengah dan memperhatikan laki-laki itu dengan waspada.

“Siapa namanya?”

Juni mendengar laki-laki itu bertanya dari balik maskernya. Juni mengerutkan keningnya dalam saat mendengar suara yang familiar itu, jantungnya sudah berpacu.

“Ashish.”

O, Ashish,” laki-laki itu mengangguk-angguk, “nama yang bagus, senang berjumpa denganmu, Ashish.”

Nuguseyo?[4]

Juni bertanya namun tak ingin mendengar jawabannya.

Laki-laki itu berhenti dengan gerakannya dibulu Ashish kemudian mendongak menatap Juni.

Ketika mata mereka bertemu, Juni sudah memastikannya, namun dia masih tidak ingin percaya, ini halusinasi. Ketika Juni mengerjap untuk menguasai dirinya, laki-laki itu menurunkan maskernya. Dan Juni mendengus, tercengang, malu, dan berdebar disaat bersamaan, menyadari bahwa itu bukan halusinasinya. Matanya seakan memanas seketika. Dan dia seperti bersiap meledak.

Joon tersenyum pada Juni dan berdiri.

Eoraenmanita[5].”

***

[1] Senior

[2] Maaf

[3] Keren

[4] Siapa anda?

[5] Lama tidak bertemu

Replies

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s